Pengembangan Moral dan Nilai- Nilai Agama

Dalam Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)

 

H. Mas’oed Abidin

Mukaddimah

Sudah lama kita mendengar ungkapan, “jadilah kamu berilmu yang mengajarkan ilmunya, atau belajar (muta’alliman), atau menjadi pendengar (mustami’an). Dan, jangan menjadi kelompok keempat, yang tidak memiliki aktifitias keilmuan sama sekali. Yakni, tidak mengajar, tidak pula belajar, serta enggan untuk mendengar”.

Peran Guru di tengah umat dan anak didiknya, adalah sesuatu pengabdian mulia, dan tugas sangat berat. Mereka adalah pelopor pembangunan (agent of changes). Bekal utamanya adalah keyakinan dan keimanan kepada Allah SWT, hidup beradat, berakhlaq mulia. Inilah, yang menjadi program utama di dalam pendidikan anak usia dini (PAUD).

Tugas itu berat. Umat hanya mungkin dibentuk melalui satu proses pembelajaran, dengan pengulangan terus menerus (kontiniutas), pencontohan (uswah) yang baik. Pekerjaan ini memerlukan ketaletenan dan semangat yang prima.

Kemuliaan seorang guru (pendidik) terpancar dari keikhlasan membentuk umat dan anak manusia menjadi pintar, beriman, berakhlaq, berilmu, mengamalkan ilmunya, untuk kebaikan diri sendiri, keluarga, dan kemaslahatan umat, di kelilingnya, serta mempunyai ibadah yang teratur, shaleh pribadi, dan shaleh social, dengan tauhid yang istiqamah.

Keberhasilan murabbi (guru) akan banyak didukung oleh kearifan, yang dibangun oleh kedalaman pengertian, pengalaman dalam membaca situasi, serta upaya dan kondisi yang kondusif di sekitarnya.

tantangan di abad ke 21

Alaf Baru ditandai oleh, (a). mobilitas serba cepat dan modern, (b). persaingan keras dan kompetitif, (c). komunikasi serba efektif, dalam satu global village, dan (d). Akibatnya, banyak ditemui limbah budaya kebaratan (westernisasi).

Alaf baru ini hadir dengan cabaran global yang menuntut keteguhan, dalam menghadapi tantangan yang berjibun banyaknya, di antaranya infiltrasi budaya sekularis yang menjajah mentalitas manusia, the globalization life style meniru sikap yahudi, suburnya budaya lucah (sensate culture), menjauh dari adat budaya luhur, pemujaan nilai rasa panca indera, menonjolkan keindahan sensual, erotik, seronok, ganas semata mengejar kesenangan badani, kebiasaan miras, pergaulan bebas, kecanduan madat dan narkoba.

Menghadapi tantangan ini, semua elemen masyarakat berkewajiban memper­siapkan generasi yang siap bersaing dalam era global terse­but, dengan sibghah yang nyata, melalui pendidikan anak pada usia dini.

Penyimpangan perilaku menjadi ukuran atas kemunduran moral dan akhlak. Hilangnya kendali para remaja, berakibat ketahanan bangsa akan lenyap dengan lemahnya remaja.

Penyebab utama di antaranya, rusaknya sistim, pola dan politik pendidikan, hilangnya tokoh panutan, berkembangnya kejahatan di kalangan orang tua, luputnya tanggung jawab lingkungan dan masyarakat, impotensi di kalangan pemangku adat, hilangnya wibawa ulama, dan suluah bendang di nagari, bergesernya fungsi lembaga pendidikan menjadi bisnis, dan profesi da’i, guru, dan suluah bendang, dilecehkan.

Perilaku umat juga berubah

Interaksi dan ekspansi kebudayaan dari luar, bergerak secara meluas. Pengaruh budaya asing berkembang pesat, seperti pengagungan materia secara berlebihan (materialistik), pemisahan kehidupan duniawi dari supremasi agama (sekularistik), pemujaan kesenangan indera mengejar kenikmatan badani (hedonistik).

Perilaku di atas merupakan penyimpangan sangat jauh dari budaya luhur. Pada akhirnya, melahirkan Kriminalitas, perilaku Sadisme, dan Krisis moral, secara meluas.

Perubahan dalam hidup beradat juga telah merambah Minangkabau.

Adat ndak dipacik arek, agamo ndak dipagang taguah.

Fakta menunjukkan bahwa adat tidak berdampak banyak terhadap generasi muda. Tempat bertanya tidak ada, Sudah banyak yang tidak mengerti adat. Karena itu, generasi muda di Nagari mulai kebingungan.

Manakala problematika sosial ini lupa mengantisipasi melalui gerakan dakwah, melalui Pendidikan Anak Usia Dini berbasis aqidah, maka arus globalisasi ini membawa perubahan yang negatif.

Terutama pada perilaku generasi, akan menjadi dzurriyatan dhi’afan, atau menjadi “X-G” the loses generation, yang hilang keseimbangan.

Hilangnya keseimbangan dalam tatanan kehidupan bermasyarakat, yang menyebabkan timbulnya berbagai krisis.

Perilaku luhur akan bergeser, dan menipisnya ukhuwah, serta berkembangnya perbuatan maksiat. Maka sekolah atau pendidikan berbasis aqidah, mesti menjadi cerminan idealitas masyarakat yang mempertahankan pembelajaran budi akhlak.

Pergeseran budaya akan terjadi ketika mengabaikan nilai-nilai agama. Pengabaian nilai-nilai agama, menumbuhkan penyakit social yang kronis, seperti kegemaran berkorupsi, aqidah tauhid melemah, perilaku tidak mencerminkan akhlak Islami, serta suka melalaikan ibadah.

Salah satu solusi untuk mengatasi problematika keumatan ini, adalah dengan melaksanakan pendidikan aqidah pada anak usia dini (PAUD), dengan menambah ilmu, menguatkan amal, menanamkan akhlak, menjaga ibadah dan karakter umat, dengan berpedoman wahyu Allah SWT.

Pendidikan aqidah dan akhlaq, membawa umat kepada bertaqwa. Janji Allah SWT sangat tepat, ” apabila penduduk negeri beriman dan bertaqwa dibukakan untuk mereka keberkatan langit dan bumi.“

“ Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS.7,al-A’raf:96).

 

Iklan

MC JAWA(kawi)

Bagi pembaca yang pengen bisa bawain bahasa ini di acara nikahan…mungkin bisa sebagai reverensi..
Poro rawuh kakung suwowono putri ingkang dahat sinu darsono ing budi
Wis cedak titi wanci wahyaning mongso kolo sri atmojo temanten kekalih sampun prapten pangur anjawi arso manjing wonten ing madyaning sasono wiwoho pramilo kagen asung pakurmatan rawuhing pinanganten sarimbit soho poro penderekipun kawulo suwun cinandiko sami mugi kersoho jumeneng sawatawis…sumonggo nuwun…………..
Assalamu alaikum warahmatullahi wabarokatuh
Sugeng poro sepuh-sesepuh pepunden ingkang dahat kawulo hormati……
Kadang besan miwah sahyaning poro penderek pinaganten kakung sarimbit ingkang saking tlatah………………………..ingkang dahat kinumartan. Sohoporo pangembat panggebating projo setianing negari ingkang minongko dados panggayoming poro kawulo dasih ingkang satuhu mahambek berbudidarmo.
Poro rawuh kakung suwowono putrid ingkang dahat sinudarsonoing budi
Sumrambahipun dumateng poro sanak kadang pitepangan ingkang hanampi pakurmatan, miwah sahyo poro kadang werdo murdotumaruno ingkang satuhu pantes sinudarsono. Soho poro konco leladi pramusaji ingkang sampunpiniji ing gati.
Nuwun poro lenggah keparengno langkung rumiyin sumonggo kawulo nderek aken hangunjuk aken pujo puji puji astuti puji syukur sumonggo sesarengan kitohaturaken dhumateng ngarsanipun gusti ingkang moho agung ALLOH SWT, bilih wonten ing ri kalenggahan sonten/dalu kulo dalah paduko sami saget nderek mangayu bagyo dinten wikraman agung pangunduhipun putro temanten kekalih kanthi kawontenan wilujeng boten kepanggih alangan satunggal punopo kalis nir ing sambi kolo.
Poro rawuh kakung suwowono putri ingkang dahat sinudarsonoing budi
Sak derengipun kaparengno langkung rumiyen kulo hangaturaken tebah siti sekul panuturing kelopo opo rantu bilih wonten lepat kawulo dene dereng sawatawis dangu rawuh paduko sami minunggar kadang besan dalah penderek pinanganten kakung/sarimbit ingkang saking tlatah…………….. proro dene ing mriki kawulo kuwo wantuncumantoko hanggampil kamardikan soho matur ing ngarso paduko sami, istining gati boten jalaran kawulo kalakduking sugi siti mawah toto krami hananging yo awit saking awrat-awratipun nyundi dawuh panjenenganipun bapak…………………..sarimbit garwo. Bilih ing ri kalenggahan sonten/dalu puniko kulo piñata minongko pranoto adi corowonten ing acoro pahargyan wikraman agung wonten ing ri kalenggahan………………….
Poro rawuh kakung suwowono putri ingkang dahat sinudarsonoing budi
Sak derengipun hadi coro pahargyan wikraman agung wonten ing r kalenggahan…………………….. kapurwakankeparengno kulo hangaturakan minggah reruncening hadi coro ingkang sampun nirantan-nirumpoko.
Tumapak hadi coro ingkang ongko sepisan
1. Waosan sab’do gusti ingkang sampun sinerat wonten ing madyang wahyu tumelan hinggih kitab suci Al-Qur’an
2. Purwoko
3. Do’a
4. Catur adi coro gatining wigati wiwahan lung tinampen penganten pamedar sabdo saking kadang besan soho hamnyeyuliti pangrebeb pinanganten kakung/sarimbit ingkang saking tlatah………………..
5. Atur pagayu agyo sakingingkang hanengku karso ingkang mangke bade ka aturaken dening penjenenganipun bapak……………..
6. Pelereman
7. Penutup

KHUTBAH JUM’AT

Al Qur’an dan Al Sunnah Mencerahkan Kehidupan Manusia

( Intisari khutbah Jum’at tanggal, 24 Nopember 2006 M / 03 Dzulqa’dah 1427 H )
Oleh : DR.H. Hidayat Nurwahid
Hari-hari ini kita kembali menyaksikan, merasakan dan melihat karunia Allah yang hadir terus menerus dan tidak akan berhenti kepada kita umat Islam khususnya umat Islam di Indonesia. Kita kembali betapa satu dari sekian banyak syari’ah Allah bila dilaksanakan ketika kita melihat sebahagian saudara-saudara kita akan dan sebahagian sudah berangkat kembali untuk melaksanakan ibadah haji. Tentu saja karunia Allah yang sangat besar ini kita maknai sebagai bagian dari karunia-karunia yang memang telah dihadirkan oleh Allah, agar kita dapat mensyukurinya, dengan mengambilnya sebagai pelajaran yang penting.
Ibroh yang paling utama salah satu diantarnya, bahwa kita dari salah satu umat Islam, termasuk umat Islam di indonesia , oleh Allah SWT selalu diberikan sarana, agar tidak pernah lupa dengan Baitullah, tak pernah lupa dengan Sya’arullah, tidak pernah lupa kita melaksanakan hak-hak sebagai hamba Allah, siapapun kita, bahkan kita adalah kelompok masyarakat yang dimudahkan oleh Allah untuk mendapatkan kemampuan, mempunyai kekuatan untuk kemudian karenaNya untuk bisa melaksanakan kewajiban berhaji.
Kemampuan terkait dengan pelaksanaan kekuatan, terkait dengan masalah ekonomi, kesehatan, kesempatan, rizki, keberkahan, Allah SWT memberikan kepada kita satu sarana, agar kelebihan-kelebihan yang diberikan kepada kita tidak membuat kita menjadi lupa kepada Allah SWT, lupa ajaran Allah / pada Syari’ahNya, justru kita kembali diberikan Allah suatu bukti dan satu sarana bahwa karunia Allah yang diberikan kepada kita baik berupa harta, kedudukan, kesempatan, ternyatabisa dipergunakan oleh saudara-saudara kita untuk merialisasikan ubudiyah kepada Allah dengan melaksanakan ibadah haji.
Satu hal yang mudah-mudahan kita selalu teringat, akan fatwa syukur kepada Allah SWT, hal yangamat menjadi penting hari inipun kita di sisi yang lain, masih merasakan betapa banyak kegetiran betapa banyak yang pahit, betapa banyak hal yang menyusahkan kehidupan kita sebagai bangsa, sebagai umat, belum selesai problema dengan lumpur di Sidoarjo, kembali kemarin terjadi ledakkan yang mengakibatkan bukan saja lubernya lumpur, tapi terjatuhnya korban saudara-saudara kita yang bertugas dan mereka pasti tidak berdosa.
Dan kemarin pun kita melihat danmembaca berita bagaimana seorang suami menembak seorang istrinya sendiri, kemudian ia berupaya untuk bunuh diri, tapi ajal belum sampaikepada dia, dan jadilah dia sekarang pesakitan. Begitu banyak masalah-masalah yang seolah-olah kemudian membawa kita kepada lingkaran syaetan, krisis yang seolah-olah karenanyatidak memberikan harapan kepada kita untuk bangkit keluar dari lingkaran syaetan ini. Dari dua kondisi yang telah saya sampaikan, kita sebagai umat yang beragama, apalagi yang penduduknya mayoritas beragama Islam ini.
Tentulah kita tidak boleh terjebak berlama-lama termangu, seolah-olah tidak mempunyai pedoman, seolah-olah kita berada di tengah-tengah gelap gulitanya kegelapan dan kezholiman. Sesungguhnya Allah telah memberikan suatu panduan kehidupan amat sangat yang mencerahkan yaitu Al Islam, dengan Al Qur’an, panduan yang kongkrit yaitu As Sunnah. Kita akan mendapatkan bahwa kehidupan memang tidaklah selamanya terang benderang, cerah mencerahkan, mudah seperti apa yang kita bayangkan, bahkan sesungguhpun apabila jamaah haji kita akan berangkat ke Makkah dan Madinah, mereka akan menadapat satu kondisi Makkah dan Madinah dan apalagi kalau mereka membaca siroh Nabawiyah, perjuangan Nabi Muhammad SAW.*
UNTUK membaca kelanjutannya:KLIK INI

¤¤”’kHUTBAH”’¤¤

oleh : Prof. Dr. Nazaruddin Umar
Salah satu dimensi kebesaran Nabi Ibrahim ialah besarnya pengorbanan yang ditunjukkan kepada Allah melalui ketulusannyadalam mengorbankan putra kesayangannya. Nabi Isma’il lahir setelah melalui penantian yang cukup panjang dari keluarga ini. Kisah keluarga Nabi Ibrahim saratakan pesan-pesan moral. Nabi Ibrahim adalah simbol bagi manusia yang rela mengorbankanapa saja demi mencapai keridhaan Tuhan, rela menyembelih anaknya, bahkan rela mengorbankan diri dalam kobaran api.
Setiap orang mempunyai kelemahan terhadap sesuatu yang dicintainya. Kelemahan Ibrahim terletak pada anak kesayangannya yang sudah lama didambakannya, dan dari sini pula kembali diuji Tuhan berupa godaan setan, tetapi Nabi Ibrahimlulus dari ujian itu. Ia secara tulus dan ikhlas mau mengorbankan putra kesayangannya. Nabi Isma’iladalah simbol bagi sesuatu yang paling dicintai dan sekaligus berpotensi melemahkan dan menggoyahkan iman, simbol bagisesuatu yang dapat membuat kitaenggan menerima tanggung jawab.
Simbol bagi sesuatu yang dapat mengajak kita untuk berpikir subyektif dan berpendirian egois. Tegasnya, simbol bagi segala sesuatu yang dapat menyesatkan kita. Mari kita mengintrospeksi dan mengukur diri kita masing-masing. Seandainya kita adalah figur “Ibrahim”, sudahkah kita memperoleh iman setangguh beliau? Sudahkah kita menunjukkan pengorbanan yang optimal ke jalan-jalan yang diridhai Tuhan?
J ika kita misalnya berada di puncak karir, sudah relakah kita mengorbankan segalanya demi mempertahankan prinsip-prinsip ajaran yang dianut? “Nabi Isma’il”simbol bagi sesuatu yang amat kita cintai, sudah barang tentu kita semua memiliki sesuatu yang dicintai. Boleh jadi “Isma’il-Isma’il”kita berbentuk harta kekayaan, semisal kendaraan baru, rumah mewah, jabatan penting, deposito, atau kekayaan lainnya. Apakah kita sudah rela mengorbankannya untuk mencapai tujuan hidup yang sebenarnya, yaitu mencapai ridha Tuhan?
Jika kita sebagai suami, sudah sanggupkah kita meniru ketangguhan iman Nabi Ibrahim, mengorbankan sesuatu yang paling dicintainya, demi mengamalkan perintah Tuhan? Jika kita sebagai istri, sudah sanggupkah kita meniru ketabahan dan ketaatan Hajar, merelakan suaminya menjalankanperintah Tuhan dan menghargai jiwa besar anaknya? Jika kita sebagai anak, sudahkah kita memiliki idealisme yang tangguh setangguh Nabi Isma’il yang rela menjadi korban untuk suatu tujuan mulia?
Kisah-kisah yang ditampilkan Al-Qur’an sangat patut menjadi pembelajaran buat kita semua. Nabi Ibrahim melahirkan anak paling sejati dalam Al-Qur’an (Q.S. 37. al-Shaffat : 102). Ia bukan hanya anak biologis, melainkan sekaligus anak spiritual. Bandingkan dengan putra Nabi Nuh, meskipun ia seorang putra biologis Nabi, tetapi ia menjadi pembangkang dan kufur. Itulah sebabnya ia dicap hanya sebagai anak biologis, tetapi bukan anak spiritual ayahnya (Q.S.11. Hud : 46).
Fir’aun adalah sosok manusia paling angkuh yang tersebut dalam al-Qur’an, tetapi isterinya mendapatkan pujian sebagai isteri salehah yang beriman (Q.S. 66 At-Tahrim : 11). Bandingkan dengan istri paling pengkhianat dalam Al-Qur’an ternyata istri NabiLuth dan Nabi Nuh (Q.S. 66 At-Tahrim : 10). Ini merupakan pelajaran penting buat kita bahwa kehebatan atau kelemahan sosok figur dalam keluarga bukan jaminan bagi keluarga lainnya untuk melakukanhal yang sama.
Semoga anak keturunan kita tidakhanya menjadi anak keturunan biologis kita, tetapi sekaligus anakketurunan spiritual kita. Semoga istri/suami kita bukan hanya istri/suami biologis kita, melainkan sekaligus istri/suami spiritual kita. Hari raya Idul Adha ini juga momentum yang baik untuk mempersiapkan generasi milenium ketiga, suatu generasi yang betul-betul terpilih (the chosen people) atau umat pilihan (khairu ummah) menurut istilah Al-Qur’an (Q.S. 4 Ali Imran : 110).
Al-Qur’an memberikan warning bagi kita agar tidak meninggalkangenerasi lemah dan tidak punya daya saing : وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا “
Dan hendaklah takut kepada Allahorang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka generasi yang lemah… “ (Q.S. An-Nisa : 9) Sebaliknya, Al-Qur’an memberikan dorongan untuk mempersiapkan generasi yang betul-betul professional, memiliki kemampuan kompetisi yang handal, generasi yang kuat dan terpercaya, sebagaimana dilukiskan dalam al-Qur’an : إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ اْلأَمِينُ “
….sesungguhnya generasi yang….
SELANJUTNYA : kunjungi di sini !!!