lanjutan HIDAYAH ALLAH S.W.T

Orang yang mendapat bisikan ialah orang yang mendapat bisikan (firasat) itu secara rahasia di dalam hatinya tentang sesuatu, kemudian dia menyatakannya. Lalu bagaimana dengan sekian banyak orang yang dikuasai imajinasi dan hayalan, yang mengatakan, “Hatiku mendapatbisikan dari Allah?” Memang tidak bisa disangkal bahwa hatinya mendapat bisikan itu. Tapi dari mana dan dari siapa? Dari syetan ataukah dari Allah? Jika dia mengaku berasal dari Allah, berarti dia menyandarkanbisikan itu dari seseorang yang sebenarnya dia pun tidak mengetahuinya secara pasti,bahwa yang membisikkan kepadanya itu benar-benar mem-bisikkan. Ini sama saja bohong. Sementara Umar bin Al-Khaththab, salah seorang dari umat ini yang telah dilejitimasi oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sebagai orang yang mendapat bisikan dari Allah, tidak membuat pengakuan seperti itudan berkata seperti itu, kapan pun, karena Allah telah melindungi dirinya agar tidak berkata seperti itu. Bahkan suatu hari saat sekretarisnya menulis, “Inilah yang diperlihatkan Allah kepada Amirul-Mukminin, Umar bin Al-Khaththab”, dia berkata, “Tidak, hapus itu. Tapi tulislah: Inilah yang dilihat Umar bin Al-Khaththab. Jika benar, maka ini datangnya dari Allah, dan jika salah, maka ini dari Umar, sedangkan Allah dan Rasul-Nya terbebas darinya.” Dia juga pernah berkata ketika memutuskan perkara tentang seorang anak yang tidak jelas bapak ibunya,”Aku memutuskannya berdasarkan pendapatku. Jika benar, maka itu datangnya dari Allah, dan jika salah, maka itu dariku dan dari syetan.”
Dengan begitu engkau bisa membedakan antara sosok Umar bin Al-Khaththab dengan sekian banyak orang yang dikuasai hayalan, pembual dan permisivis yang mengatakan, “Hatiku mendapat bisikan (wangsit) dari Allah.” Perhatikan dan bandingkan antara keduanya, kemudian berikan hak kepada masing-masing secara proporsional, jangan samakan pembual dengan orang yang tulus.
Tingkatan Kelima:
Dengan cara pemahaman. Allah befirman,
“Dan (ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Dan, adalah Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu, maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat) dan ilmu.” (Al-Anbiya’: 78-79).
Allah menyebutkan dua nabi yang mulia ini, memuji keduanya dengan ilmu dan hukum, mengkhususkan Sulaiman dengan pemahaman dalam peristiwa ini. Ali bin Abu Thalib pernah ditanya seseorang, “Apakah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah mengkhususkan kalian para shahabat dengan sesuatu tanpa yang lain?” Ali menjawab,“Tidak pernah, kecuali hanya pemahaman tentang Kitab-Nya seperti yang diberikan Allah kepada seorang hamba.”
Pemahaman ini datangnya dari Allah dan Rasul-Nya, yang merupakan inti kebenaran. Ada perbedaan di antara orang-orang yang berilmu sehubungandengan pemahaman ini, sampai-sampai ada satu orang yang disamakan dengan seribu orang. Perhatikan pemahaman yang dimiliki Ibnu Abbas, saat dia ditanya Umar dalam pertemuan yang dihadiri para shahabat yang pernah ikut perang Badr dan juga lain-lainnya tentang makna surat An-Nashr. Menurut Ibnu Abbas, surat ini merupakan pengabaran tentang kedekatan ajal beliau. Ternyata jalan pikiran Ibnu Abbas ini cocok dengan jalan pikiran Umar sendiri. Hanya mereka berdua yang memahami seperti ini, sekalipun Ibnu Abbas adalah orang yang paling muda di antara para shahabat yang ada pada waktu itu. Dari sisi mana surat ini bisa dipahami sebagai pengabaran tentang ajal beliau yang sudah dekat kalau bukan karena pemahaman yang sifatnya khusus?
Tingkatan Keenam:
Penjelasan secara umum. Artinya, penjelasan tentang kebenaran dan kemampuan untuk membedakannya dari yang batil, berdasarkan dalil,bukti dan saksi-saksi penguat, sehingga lalu berubah seperti sebuah kenyataan di dalam hati, seperti sebuah kenyataan yang tampak jelas didepan mata kepala. Tingkatan ini merupakan hujjah Allah atas makhluk-Nya. Dia tidak mengadzab dan tidak menyesatkan seseorang kecualisete-lah orang tersebut mendapatkan kejelasan ini. Firman-Nya,
“ Dan, Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan suatu kaum, sesudah Allah memberi petunjuk kepada mereka hingga dijelaskan-Nya kepada mereka apa yang harus dijauhi.” (At-Taubah: 115).
Kesesatan ini merupakan hukuman bagi mereka yang datangnya dari Allah, karena Dia telah menjelaskan kepada mereka, namun mereka tidak mau menerima dan tidak mengamalkannya. Maka Allah menghukum mereka dengan cara menyesatkannya dari petunjuk. Jadi, Allah sama sekalitidak menyesatkan seseorang kecuali setelah ada penjelasan ini. Jika engkau sudah memahami hal ini, tentu engkau bisa memahami rahasiatakdir, sehingga engkau tidak terasuki sekian banyak keragu-raguan dan syubhat tentang masalah ini.