AL QUR’AN DAN SUNNAH, KONSEP PENDIDIKAN ISLAM DALAM TERAPAN MASYARAKAT MADANI

AL QUR’AN DAN SUNNAH, KONSEP PENDIDIKAN ISLAM DALAM TERAPAN MASYARAKAT MADANI

A. Deskripsi Pendidikan dan Pendidikan Islam
Pendidikan merupakan bimbingan atau pertolongan yang diberikan oleh orang dewasa agar ia menjadi dewasa. Melalui sebuah pendidikan seseorang yang dahulunya belum tahu, setelah dibimbing oleh pendidik, menjadi tahu. Selanjutnya pendidikan dapat diartikan sebagai usaha yang dijalankan oleh seseorang atau kelompok orang lain agar menjadi dewasa atau mencapai tingkat hidup atau penghidupan yang lebih tinggi dalam arti mental. Hal ini dapat dikatakan bahwa pendidikan merupakan suatu proses generasi muda untuk dapat menjalankan kehidupan dan memenuhi tujuan hidupnya secara lebih efektif dan efisien. Karena para orang dewasa memberikan pendidikan dan pengarahan kepada generasi muda untuk menanamkan jiwa kepribadian terhadapnya.
Langeveld mengatakan suatu pendidikan adalah usaha, pengaruh, perlindungan dan bantuan yang diberikan kepada anak tertuju kepada pendewasaan anak itu.
John Dewey mengemukakan pendidikan adalah proses pembentukan kecakapan-kecakapan fundamental secara intelektual dan emosional ke arah alam dan sesama manusia.
Carter V.Good berpendapat pendidikan adalah “The systematized learning or instruction concerning principles and methods of teaching and of student control and guidance; largely replaced by the term education” ( Ilmu yang sistematis atau pengajaran yang berhubungan dengan prinsip dan metode-metode mengajar, pengawasan, dan bimbingan murid;dalam arti luas diganti dengan pendidikan (Carter V.Good, 1959:387).
Sedang Ki Hajar Dewantara merumuskan pendidikan adalah segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.
Menurut UU Nomor 2 Tahun 1989 merumuskan pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang.
Jadi, dapat disimpulkan, pendidikan adalah usaha yang di dalamnya menunjukan suatu proses transmisi bimbingan, tuntunan kepada peserta didik untuk mencapai kedewasaanya dalam proses tanggungjawab kehidupannya.
Sedangkan pendidikan islam adalah usaha-usaha untuk menyampaikan ilmu pengetahuan dan nilai islam baik dalam bentuk bimbingan rohani maupun jasmani guna mewujudkan terbentuknya manusia yang memiliki kepribadian utama serta kesuksesan dunia akhirat.
Al Syaibaniy mengatakan pendidikan islam adalah proses tingkah laku individu peserta didik pada kehidupan pribadi, masyarakat, dan alam sekitar.
Sedangkan Muhammad Fadhil al Jamaly mengemukakan pendidikan islam merupakan upaya mengembangkan, mendorong, serta mengajak peserta didik hidup lebih dinamis dengan berdasarkan nilai-nilai yang tinggi dan kehidupan yang mulia.
Menurut Ahmad D. Marimba pendidikan islam adalah bimbingan atau pimpinan secara sadaroleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani peserta didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama (insan kamil).
Ahmad Tafsir merumuskan pendidikan islam sebagai bimbingan yang diberikan oleh seseorang agar ia berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran islam.
Dari uraian tokoh-tokoh di atas tadi, dapat disimpulkan bahwa pendidikan islam adalah suatu sistem yang memungkinkan seseorang dapat mengarahkan kehidupannya sesuai dengan ideologi islam dan akan membentuk kehidupannya sesuai dengan ajaran islam.
Jadi, antara pendidikan dengan pendidikan islam mempunyai arti yang berkesinambungan, hanya saja terdapat perbedaan terhadap metode yang dilakukannya. Pendidikan lebih berorientasi terhadap suatu hal yang lebih universal tanpa menggunakan ajaran agama sebagai landasannya. Sedangkan pendidikan islam adalah konteks mendidik dengan asas agama sebagai pegangannya.
B. Dasar-dasar Demokrasi Pendidikan Menurut Islam
Pada dasarnya islam memberikan kebebasan kepada individu (peserta didik) untuk mengembangkan nilai-nilai fitrah yang ada dalam dirinya untuk menyelaraskan dengan perkembangan zaman.
Sebagai acuan pemahaman demokrasi pendidikan dalam islam, nampaknya tercermin dalam beberapa hal sebagai berikut:
1. Islam mewajibkan manusia untuk menuntut Ilmu
“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim laki-laki dan perempuan”.

Hadits tersebut mencerminkan bahwa di dalam islam terdapat demokrasi pendidikan, di mana islam tidak membeda-bedakan antara muslim laki-laki dan perempuan dalam kewajiban menuntut ilmu. Oleh karena itu, pendidikan harus disebarluaskan kepada segenap lapisan masyarakat secara adil dan merata sesuai dengan disparitas yang ada atau sesuai dengan kondisi jumlah penduduk.
Untuk mewujudkan kesejahteraan lahir batin, untuk kepentingan hidup dunia akhirat, umat islam harus memperhatikan pendidikan, sebab semua ini sangat menentukan khususnya manusia sebagai khalifah di muka bumi ini.
2. Adanya keharusan untuk bertanya kepada ahli ilmu
Di dalam QS.An Nahl 43:
43. dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan[828] jika kamu tidak mengetahui,

[828] Yakni: orang-orang yang mempunyai pengetahuan tentang Nabi dan kitab-kitab.

Umat islam diharuskan memiliki ahli-ahli dalm bidang-bidang pengetahuan tertentu. Karena itu, umat islam harus terus memacu dirinya agar tidak ketinggalan dalam hal pendidikan. Pedoman demokrasi pendidikan islam:
a. Saling menghargai, yang merupakan wujud dari perasaan bahwa manusia adalah makhluk yang dimuliakan Allah SWT. Terdapat dalam QS. Al Isra 70:
70. dan Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan[862], Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.

[862] Maksudnya: Allah memudahkan bagi anak Adam pengangkutan-pengangkutan di daratan dan di lautan untuk memperoleh penghidupan.

b. Penyampaian pengajaran harus dengan bahasa dan praktek yang berdasar atas kebaikan dan kebijaksanaan. QS.An Nahl 125:
125. serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah[845] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

[845] Hikmah: ialah Perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil.

c. Perlakuan adil terhadap anak didik
QS. Al Maidah 8:
8. Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu Jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk Berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

d. Terjalinnya rasa kasih sayang antara pendidik dan anak didik.
Hal ini tercermindalam hadits Rasulullah SAW yang artinya:
“Belum dikatakan beriman diantara kamu sehingga kamu menyayangi saudaranya sehingga kamu menyayangi dirimu sendiri.”
e. Tertanamnya jiwa pendidik dan anak didik akan kebutuhan taufik dan hidayah Allah SWT.
Dengan beberapa uraian tersebut, jelas sekali bahwa islam memberikan dasar demokrasi dalam pendidikan, karena dengan demokrasi pendidikan, akan melahirkan kemajuan-kemajuan yang berarti bagi umat manusia.
C. Konsep Pendidikan Islam
Konsep dalam pendidikan islam merupakan suatu konsep yang khas dan tersendiri, baik dari segi alat-alat maupun segi tujuan-tujuannya, dengan suatu bentuk yang nyata dan menarik perhatian serta membangkitkan minat untuk memiliki sumber ideologinya yang khas dalam perjalanan sejarah. Ruang lingkup dan keleluasaan sistem pendidikan islam tidak boleh keluar dari keterpaduan tujuan dan cara. Di dalam sistem pendidikan islam terdapat satu cara dan satu tujuan untuk dapat menyatukan kepribadian yang pecah untuk dapat mencapai satu tujuan yang lurus dan bulat. Inilah keistimewaan dari sistem pendidikan islam yang berbeda dengan sistem pendidikan buatan manusia yang pada umumnya memiliki tujuan yang relatif sama meskipun alat-alat yang digunakan untuk memenuhi tujuan tersebut berbeda-beda sesuai dengan pengaruh lingkungan dan kondisi sejarah, sosial, politik dan sebagainya.
Sistem pendidikan buatan manusia pada umumnya bermuara dalam suatu tujuan pendidikan yaitu membentuk “nasionalisme sejati “. Sedangkan islam, tidak mengurung dirinya pada batas-batas yang sempit itu dan tidak hanya berusaha membentuk “nasionalis sejati “ akan tetapi berusaha untuk mewujudkan suatu tujuan yang lebih besar dan menyeluruh, yaitu membentuk “manusia sejati”. Islam dalam membentuk manusia yang baik itu tidak membiarkan manusia berada dalam kebimbangan dan terus menerus berjalan di dalam kegelapan, dimana masing-masing membentuk dirinya menurut kemauannya sendiri. Akan tetapi islam menetapkan ciri-ciri manusia secara cermat dan jelas, serta menggaris strategi yang dapat mengantarkan mereka untuk mencapai tujuan itu.
Konsep pendidikan Islam disengaja untuk membentuk karakter manusia menjadi insan kamil dan mampu menjawab tantangan zaman ke depannya.
D. Konsep Pendidikan dalam Al Qur’an
Istilah pendidikan bisa ditemukan dalam al-Qur’an dengan istilah ‘at-Tarbiyah’, ‘at-Ta’lim’, dan ‘at-Tadhib’, tetapi lebih banyak kita temukan dengan ungkapan kata ‘rabbi’, kata at-Tarbiyah adalah bentuk masdar dari fi’il madhi rabba , yang mempunyai pengertian yang sama dengan kata ‘rabb’ yang berarti nama Allah. Dalam al-Qur’an tidak ditemukan kata ‘at-Tarbiyah’, tetapi ada istilah yang senada dengan itu yaitu; ar-rabb, rabbayani, murabbi, rabbiyun, rabbani. Sebaiknya dalam hadis digunakan istilah rabbani. Semua fonem tersebut mempunyai konotasi makna yang berbeda-beda.
Beberapa ahli tafsir berbeda pendapat dalam mengartikan kata-kata diatas. Sebagaimana dikutip dari Ahmad Tafsir bahwa pendidikan merupakan arti dari kata ‘Tarbiyah’ kata tersebut berasal dari tiga kata yaitu; rabba-yarbu yang bertambah, tumbuh, dan ‘rabbiya- yarbaa’ berarti menjadi besar, serta ‘rabba-yarubbu’ yang berarti memperbaiki, menguasai urusan, menuntun, menjaga, memelihara. Konferensi pendidikan Islam yang pertama tahun 1977 ternyata tidak berhasil menyusun definisi pendidikan yang dapat disepakati, hal ini dikarenakan; 1) banyaknya jenis kegiatan yang dapat disebut sebagai kegiatan pendidikan, 2) luasnya aspek yang dikaji oleh pendidikan .
Para ahli memberikan definisi at-Tarbiyah, bila diidentikan dengan ‘arrab’ sebagai berikut;
1) Menurut al-Qurtubi, bahwa; arti ‘ar-rabb adalah pemilik, tua, Maha memperbaiki, Yang Maha pengatur, Yang Maha mengubah, dan Yang Maha menunaikan
2) Menurut louis al-Ma’luf, ar-rabb berarti tuan, pemilik, memperbaiki, perawatan, tambah dan mengumpulkan.
3) Menurut Fahrur Razi, ar-rabb merupakan fonem yang seakar dengan al-Tarbiyah, yang mempunyai arti at-Tanwiyah (pertumbuhan dan perkembangan) .
4) Al-Jauhari memberi arti at-Tarbiyah, rabban dan rabba dengan memberi makan, memelihara dan mengasuh.
5) Kata dasar ar-rabb, yang mempunyai arti yang luas antara lain; memilki, menguasai, mengatur, memelihara, memberi makan, menumbuhkan, mengembangkan dan berarti pula mendidik.
Apabila pendidikan Islam di identikan dengan at-ta’lim, para ahli memberikan pengertian sebagai berikut:
(a) Abdul Fattah Jalal, mendefinisikan at-ta’lim sebagai proses pemberian pengetahuan, pemahaman, pengertian, tanggung jawab, dan penanaman amanah, sehingga penyucian atau pembersihan manusia dari segala kotoran dan menjadikan diri manusia berada dalam kondisi yang memungkinkan untuk menerima al-hikmah serta mempelajari apa yang bermanfaat baginya dan yang tidak diketahuinya . At-ata’lim menyangkut aspek pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan seseorang dalam hidup serta pedoman prilaku yang baik. At-ta’lim merupakan proses yang terus menerus diusahakan semenjak dilahirkan, sebab menusia dilahirkan tidak mengetahui apa-apa, tetapi dia dibekali dengan berbagai potensi yang mempersiapkannya untuk meraih dan memahami ilmu pengetahuan serta memanfaatkanya dalam kehidupan.
(b) Menurut Rasyid Ridho, at-ta’lim adalah proses transmisi berbagai ilmu pengetahuan pada jiwa individu tanpa adanya batasan dan ketentuan tertentu . Definisi ini berpijak pada firman Allah al-Baqoroh ayat 31 tentang allama Allah kepada Nabi Adam as, sedangkan proses tranmisi dilakukan secara bertahap sebagaimana Adam menyaksikan dan menganalisis asma-asma yang diajarkan Allah kepadanya. Dari penjelasan ini disimpulkan bahwa pengertian at-ta’lim lebih luas/lebih umum sifatnya daripada istilah at-tarbiyah yang khusus berlaku pada anak-anak. Hal ini karena at-ta’lim mencakup fase bayi, anak-anak, remaja, dan orang dewasa, sedangkan at-tarbiyah, khusus pendidikan dan pengajaran fase bayi dan anak-anak.
(c) Sayed Muhammad an Naquid al-Atas, mengartikan at-ta’lim disinonimkan dengan pengajaran tanpa adanya pengenalan secara mendasar, namun bila at-ta’lim disinonimkan dengan at-tarbiyah, at-ta’lim mempunyai arti pengenalan tempat segala sesuatu dalam sebuah sistem
Menurutnya ada hal yang membedakan antara at-tarbiyah dengan at-ta’lim, yaitu ruang lingkup at-ta’lim lebih umum daripada at-tarbiyah, karena at-tarbiyah tidak mencakup segi pengetahuan dan hanya mengacu pada kondisi eksistensial dan juga at-tarbiyah merupakan terjemahan dari bahasa latin education, yang keduanya mengacu kepada segala sesuatu yang bersifat fisik-mental, tetapi sumbernya bukan dari wahyu.
Pengunaan at-ta’dib, menurut Naquib al-Attas lebih cocok untuk digunakan dalam pendidikan Islam, konsep inilah yang diajarkan oleh Rasul. At-ta’dib berarti pengenalan, pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan kepada manusia tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu dalam tatanan penciptaan sedimikian rupa, sehingga membimbing kearah pengenalan dan pengakuan kekuasaan dan keagungan Tuhan dalam tatanan wujud dan keberadaanya .
Kata ‘addaba’ yang juga berarti mendidik dan kata ‘ta’dib’ yang berarti pendidikan adalah diambil dari hadits Nabi “Tuhanku telah mendidikku dan dengan demikian menjadikan pendidikanku yang terbaik”.
(d) Menurut Muhammad Athiyah al-Abrasy, pengertian at-ta’lim berbeda dengan pendapat diatas, beliau mengatakan bahwa; at-ta’lim lebih khusus dibandingkan dengan at-tarbiyah, karena at-ta’lim hanya merupakan upaya menyiapkan individu dengan mengacu pada aspek-aspek tertentu saja, sedangkan at-tarbiyah mencakuip keseluruhan aspek-aspek pendidikan.
Masih lagi pengertian pendidikan Islam dari berbagai tokoh pemikir Islam, tetapi cukuplah pendapat diatas untuk mewakili pemahaman kita tentang konsep pendidikan Islam (al-Qur’an ). Konsep filosofis pendidikan Islam adalah bersumber dari hablum min Allah (hubungan dengan Allah) dan hablum min al-nas (hubungan dengan sesama manusia) dan hablum min al-alam (hubungan dengan manusia dengan alam sekitas) yang selanjutnya berkembang ke berbagai teori yang ada seperti sekarang ini. Inspirasi dasar yaitu berasal dari al-Qur’an.
E. Asas Pendidikan dalam Islam
Dasar yang terpenting dari pendidikan Islam adalah Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW.
Al Qur’an adalah Firman Allah berupa wahyu yang disampaikan oleh malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW untuk dibaca, dipahami, dan diamalkan sebagai petunjuk atau pedoman hidup bagi umat manusia.
Sedangkan Sunnah merupakan adat atau aturan agama Islam yang berdasarkan apa yang diucapkan, diperbuat oleh Nabi Muhammad SAW.
Menetapkan Al Qur’an dan Sunnah sebagai dasar pendidikan Islam bukan hanya dipandang sebagai kebenaran yang didasarkan pada keimanan semata. Namun justru dengan kebenaran yang didapat dalam kedua dasar tersebut dapat diterima oleh nalar manusia dan dapat dibuktikan dalam sejarah atau pengalaman kemanusiaan. Sebagai pedoman, Al Qur’an tidak ada keraguaan padanya, terdapat dalam QS Al Baqarah 2:
2. Kitab [11] (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa [12],

[11] Tuhan menamakan Al Quran dengan Al kitab yang di sini berarti yang ditulis, sebagai isyarat bahwa Al Quran diperintahkan untuk ditulis.
[12] Takwa Yaitu memelihara diri dari siksaan Allah dengan mengikuti segala perintah-perintah-Nya; dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya; tidak cukup diartikan dengan takut saja.

Serta Al Qur’an itu tetap terpelihara kesucian dan kebenarannya, baik dalam pembinaan aspek spiritual, sosial budaya, dan pendidikan. Seperti terdapat dalam QS. Al Hijr 9:
9. Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya [793].

[793] Ayat ini memberikan jaminan tentang kesucian dan kemurnian Al Quran selama-lamanya.

Demikian pula, dengan kebenaran Sunnah dengan asas kedua bagi pendidikan Islam. Secara umum, Sunnah dipahami sebagai segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, serta ketetapannya. Kepribadian Rasulullah sebagai suri tauladan yang baik. Oleh karena itu, perilakunya senantiasa terpelihara dan terkontrol oleh Allah SWT.
Dalam pendidikan islam, Sunnah Rasul mempunyai dua fungsi, yaitu: (1) menjelaskan sistem pendidikan Islam yang terdapat dalam Al Qur’an dan menjelaskan hal-hal yang tidak terdapat di dalammya. (2) Menyimpulkan metode pendidikan dari kehidupan Rasulullah bersama sahabat.
Melalui dasar Al Qur’an dan Sunnah tersebut, dapat dirumuskan bahwa ajaran dari pendidikan islam adalah ajaran yang Tauhid, dikarenakan,
Pertama, kesatuan kehidupan. Bagi manusia ini berarti bahwa kehidupan duniawi menyatu dengan ukhrowinya.
Kedua, kesatuan ilmu. Ilmu bersuber dari Allah SWT.
Ketiga, kesatuan iman dan rasio. Masing-masing dibutuhkan dan saling melengkai.
Keempat, kesatuan agama. Agama yang dibawa oleh para Nabi semuanya bersumber dari Allah SWT.
Kelima, kesatuan kepribadian manusia. Mereka diciptakan dari tanah dan Ruh Illahi.
Keenam, kesatuan individu dan masyarakat. Masing-masing harus saling menunjang.
Pendidikan yang berlandaskan nilai-nilai Al Qur’an dan Sunnah akan memegang peranan yang signifikan dalam memperkokoh ketahanan rohani umat manusia. Jika pendidikan berdasarkan sumber yang shahih tersebut terus dikembangkan secara berkesinambungan, maka nilai-nilai Al Qur’an dan Sunnah akan mampu menoreh suatu keberhasilan bagi bangsa Indonesia dalam ilmu pengetahuan.
Al-Qur’an merupakan firman Allah yang selanjutnya dijadikan pedoman hidup (way of life) kaum muslim yang tidak ada lagi keraguan di dalamnya. Di dalamnya terkandung ajaran-ajaran pokok (prinsip dasar) menyangkut segala aspek kehidupan manusia yang selanjutnya dapat dikembangkan sesuai dengan nalar masing-masing bangsa dan kapanpun masanya dan hadir secara fungsional memecahkan problem kemanusiaan. Salah satu permasalahan yang tidak sepi dari perbincangan umat adalah masalah pendidikan. Dalam al-Qur’an sendiri telah memberi isyarat bahwa permasalahan pendidikan sangat penting, jika al-Qur’an dikaji lebih mendalam maka kita akan menemukan beberapa prinsip dasar pendidikan, yang selanjutnya bisa kita jadikan inspirasi untuk dikembangkan dalam rangka membangun pendidikan yang bermutu. Ada beberapa indikasi yang terdapat dalam al-Qur’an yang berkaitan dengan pendidikan antara lain; Menghormati akal manusia, bimbingan ilmiah, fitrah manusia, penggunaan cerita (kisah) untuk tujuan pendidikan dan memelihara keperluan sosial masyarakat .
Berdasarkan uraian di atas, pengertian pendidikan menurut Al-Qur’an dan Sunnah sangat luas, meliputi pengembangan semua potensi bawaan manusia yang merupakan rahmat Allah. Potensi-potensi itu harus dikembangkan menjadi kenyataan berupa keimanan dan akhlak serta kemampuan beramal dengan menguasai ilmu (dunia–akhirat) dan keterampilan atau keahlian tertentu sehingga mampu memikul amanat dan
tanggung jawab sebagai seorang khalifat dan muslim yang bertaqwa.
F. Hakekat Pendidikan dalam Al Qur’an
Hakekat/nilai merupakan esensi yang melekat pada sesuatu yang sangat berarti bagi kehidupan manusia. Nilai bersifat praktis dan efektif dalam jiwa dan tindakan manusia dan melembaga secara objektif didalam masyrakat. Nilai ini merupakan suatu realita yang sah sebagai suatu cita-cita yang benar dan berlawanan dengan cita-cita palsu yang bersifat khayal. Dari beberapa pengertian diatas bisa ditarik kesimpulan bahwa pengertian pendidikan Islam adalah; proses transformasi dan internalisasi ilmu pengetahuan dan nilai-nilai Islam pada peserta didik melalui penumbuhan dan pengembangan potensi fitrahnya untuk mencapai keseimbangan dan kesempurnaan hidup dalam segala aspeknya. Sehingga dapat dijabarkan pada enam pokok pikiran hakekat pendidikan Islam yaitu:
1) Proses tranformasi dan internalisasi, yaitu upaya pendidikan Isla harus dilakukan secara berangsur-angsur, berjenjang dan Istiqomah, penanaman nilai/ilmu, pengarahan, pengajaran dan pembimbingan kepada anak didik dilakukan secara terencana, sistematis dan terstuktur dengan menggunakan pola, pendekatan dan metode/sistem tertentu.
2) Kecintaan kepada Ilmu pengetahuan, yaitu upaya yang diarahkan pada pemberian dan pengahayatan, pengamalan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan yang dimaksud adalah pengetahuan yang bercirikhas Islam, dengan disandarkan kepada peran dia sebagai khalifah fil ardhi dengan pola hubungan dengan Allah (hablum min Allah), sesama manusia (hablum minannas) dan hubungan dengan alam sekitas (hablum min al-alam).
3) Nilai-nilai Islam, maksudnya adalah nilai-nilai yang terkandung dalam praktek pendidikan harus mengandung nilai Insaniah dan Ilahiyah. Yaitu: a) nilai yang bersumber dari sifat-sifat Allah sebanyak 99 yang tertuang dalam “al Asmaul Husna” yakni nama-nama yang indah yang sebenarnya karakter idealitas manusia yang selanjutnya disebut fitrah, inilah yang harus dikembangkan. b) Nilai yang bersumber dari hukum-hukum Allah, yang selanjutnya di dialogkan pada nilai insaniah. Nilai ini merupakan nilai yang terpancar dari daya cipta, rasa dan karsa manusia yang tumbuh sesuai dengan kebutuhan manusia.
4) Pada diri peserta didik, maksudnya pendidikan ini diberikian kepada peserta didik yang mempunyai potensi-potensi rohani. Potensi ini memmungkinkan manusia untuk dididik dan selanjutnya juga bisa mendidik.
5) Melalui pertumbuhan dan pengembangan potensi fitrahnya, tugas pokok pendidikan Islam adalah menumbuhkan, mengembangkan, memelihara, dan menjaga potensi manusia, sehingga tercipta dan terbentuklah kualitas generasi Islam yang cerdas, kreatif dan produktif.
6) Menciptakan keseimbangan dan kesempurnaan hidup, dengan kata lain ‘insan kamil’ yaitu manusia yang mampu mengoptimalkan potensinya dan mampu menyeimbangkan kebutuhan jasmani dan rohani, dunia dan akherat. Proses pendidikan yang telah dijalani menjadikan peserta didik bahagia dan sejahtera, berpredikat khalifah fil ardhi.
Prinsip diatas adalah pikiran idealitas pendidikan Islam terutama di Indonesia, tetapi dalam mewujudkan cita-cita tersebut banyak sekali permasalah yang telah menghambat pencapaian cita-cita tersebut malah terkadang membelokkan tujuan utama dari pendidikan Islam. Problem pendidikan Islam harus menjadi tanggung jawab bersama baik dari pendidik, pemerintah, orang tua didik dan anak didik itu sendiri, jadi kesadaran dari semua pihak sangatlah diharapkan.
G. Aktualisasi Nilai Al Qur’an dalam Sistem Pendidikan Islam
Dalam konteks etika pendidikan dalam islam, maka sumber etika dan nilai-nilai yang paling shahih adalah Al Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Al Qur’an memberikan wawasan dan motivasi kepada manusia dalam berbagai aspek termasuk dalam bidang pendidikan. Tuntunan dan anjuran untuk mempelajari Al Qur’an dan menggali kandungannya merupakan suatu hal yang mulia.
Sesuai dengan perkembangan masyarakat yang semakin dinamis sebagai akibat dari kemajuan ilmu, maka aktualisasi nilai-nilai Al Qur’an menjadi sangat penting. Salah satu aktualisasi nilai Al Qur’an adalah dengan cara pendidikan, khususnya pendidikan islam. Karena tanpa aktualisasi Al Qur’an, umat islam akan menghadapi kendala dalam upaya internalisasi nilai-nilai Qur’ani sebagai upaya pembentukan pribadi umat yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, cerdas, maju, dan mandiri.
Secara normatif, tujuan yang ingin dicapai dalam proses aktualisasi nilai-nilai Al Qur’an dalam pendidikan meliputi tiga dimensi atau aspek kehidupan yang harus dibina dan dikembangkan oleh pendidikan yakni:
1. Dimensi spiritual
2. Dimensi budaya
3. Dimensi kecerdasan
Penjelasan :
1. Dimensi spiritual
Yakni iman, takwa, dan akhlak yang mulia. Dimensi ini ditekankan kepada akhlak. Akhlak merupakan alat kontrol psikis dan sosial bagi individu dan masyarakat. Tanpa akhlak, manusia akan berada dengan kumpulan hewan dan binatang yang tidak memiliki tata nilai dalam kehidupan. Pendidikan akhlak dalam islam tersimpul dalam prinsip “berpegang teguh pada kebaikan dan kebajiakan serta menjauhi keburukan dan kemungkaran” berhubungan erat dalam upaya mewujudkan tujuan dasar pendidikan islam, yaitu ketakwaan, ketundukan, dan beribadah kepada Allah SWT.
Pada dimensi spiritual ini, menekankan pentingnya akhlak dalam pendidikan karena akhlak merupakan suatu ciri dari perbuatan manusia dalam kehidupan bermasyarakat, terbinanya akhlak yang baik dapat menjadikan terbentuknya individu dan masyarakat dalam kumpulan suatu masyarakat yang beradab.
2. Dimensi budaya
Yaitu kepribadian yang mantap dan mandiri, tanggungjawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Dimensi ini menitikberatkan pembentukan kepribadian muslim sebagai individu yang diarahkan kepada peningkatan dan pengembangan faktor dasar dan faktor ajar (lingkungan) dengan berpedoman pada nilai-nilai keislaman. Faktor dasar dikembangkan dan ditingkatkan kemampuan melalui bimbingan dan kebiasaan berpikir, bersikap, dan bertingkah laku menurut norma islam. Sedangkan faktor ajar dilakukan dengan cara mempengaruhi individu melalui proses dan usaha membentuk kondisi yang mencerminkan pola kehidupan yang sejalan dengan pola-pola kehidupan islam.
Dalam dimensi budaya ini, menitikberatkan pembentukan kepribadian muslim yang tangguh melalui pendidikan dalam proses internalisasi nilai-nilai Al Qur’an. Pembentukan individu yang mandiri akan mempengaruhi pola kehidupan dalam pembentukan masyarakat yang baik.
3. Dimensi kecerdasan
Merupakan dimensi yang dapat membawa kemajuan, yaitu cerdas, kreatif, terampil, disiplin, dll. Dimensi kecerdasan dalam pandangan psikologi merupakan suatu proses yang mencakup tiga proses yaitu analisis, kreativitas, dan praktis. Tegasnya dimensi kecerdasan ini berimplikasi bagi pemahaman nilai-nilai Al Qur’an dalam pendidikan.
Dalam aktualisasi nilai-nilai Al Qur’an, yakni dengan menempatkan Al Qur’an sebagai landasan dalam terciptanya suatu pendidikan islam, maka dalam usaha mengaktualisasikan Al Qur’an, diperlukan suatu pemahaman, penghayatan, serta pembelajaran supaya makna dan nilai-nilai Al Qur’an dapat terealisasikan dengan maksimal. Sesungguhnya penerapan Al Qur’an dalam sistem pendidikan islam merupakan langkah bagi terbentuknya individu yang berperan dalam kehidupan masyarakat dalam membentuk masyarakat yang madani.
H. Peran Pendidikan Islam dalam Terbentuknya Masyarakat Madani
Pendidikan Islam mempunyai peran yang sangat besar dalam membangun masyarakat madani yang bersistem sosial yang subur berdasarkan prinsip moral yang menjamin keseimbangan antara kebebasan individu dengan kestabilan masyarakat. Terbentuknya masyarakat madani merupakan terobosan dari pendidikan islam yang menghendaki adanya suatu masyarakat yang mandiri, dapat menjaga kestabilitasan, dan menjadi masyarakat yang beradab melalui pendidikan islam yang bersumber dari nilai Al Qur’an dan Sunnah. Membentuk masyarakat madani tidak mudah, dikarenakan terdapat pluralisme di bangsa ini. Tetapi dengan masuknya pendidikan secara islam sebagai modal awal yang disertai Al Qur’an dan Sunnah, dapat terbentuknya masyarakat madani itu sendiri. Terobosan terhadap dasar pembaharuan pendidikan Islam menuju masyarakat madani sangat diperlukan, karena pendidikan sarana terbaik yang didesain untuk menciptakan suatu generasi baru pemuda-pemudi yang tidak akan kehilangan ikatan dengan tradisi mereka sendiri tapi juga sekaligus tidak menjadi bodoh secara intelektual atau terbelakang dalam pendidikan mereka atau tidak menyadari adanya perkembangan-perkembangan disetiap cabang pengetahuan manusia. Berdasarkan apa yang dikemukakan di atas, maka masalah yang perlu dicermati dalam pembahasan ini adalah bagaimanakah pendidikan Islam didesain menuju masyarakat madani Indonesia.
1. Konsep masyarakat madani
Istilah masyarakat madani sebenarnya telah lama hadir di bumi, walaupun dalam wacana akademi di Indonesia belakangan mulai tersosialisasi. Dalam bahasa Inggris ia lebih dikenal dengan sebutan Civil Society. Sebab, masyarakat madani sebagai terjemahan kata civil society atau al-muftama’ al madani. Istilah civil society pertama kali dikemukakan oleh Cicero dalam filsafat politiknya dengan istilah societies civilis. Secara ideal masyarakat madani ini tidak hanya sekedar terwujudnya kemandirian masyarakat berhadapan dengan negara, melainkan juga terwujudnya nilai-nilai tertentu dalam kehidupan masyarakat terutama keadilan, persamaan, kebebasan dan kemajemukan (pluralisme).
Model masyarakat madani pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW ketika memimpin Madinah. Dimana masa itu hubungan antara rakyat dan pemerintah begitu harmonis, serta hubungan antar masyarakat dari berbagai latar belakang (suku, agama, ras) juga begitu harmonis. Hal ini pernah terjadi karena Nabi Muhammad SAW memberikan sebuah pendidikan islam yang berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah.
Terdapat sepuluh ciri yang menjadi karakteristik masyarakat madani tersebut, yaitu: Universalitas, supermasi, keabadian, dan pemerataan kekuatan (prevalence of force) adalah empat ciri yang pertama. Ciri yang kelima, ditandai dengan kebaikan dari dan untuk bersama. Ciri ini bisa terwujud jika setiap anggota masyarakat memiliki akses pemerataan dalam memanfaatkan kesempatan (the tendency to equalize the share of utility). Keenam, jika masyarakat madani ditujukan untuk meraih kebajikan umum (the common good), tujuan akhir memang kebajikan publik (the public good). Ketujuh, sebagai “perimbangan kebijakan umum”, masyarakat madani juga memperhatikan kebijakan perorangan dengan cara memberikan alokasi kesempatan kepada semua anggotanya meraih kebajikan itu. Kedelapan, masyarakat madani, memerlukan “piranti eksternal” untuk mewujudkan tujuannya. Piranti eksternal itu adalah masyarakat eksternal. Kesembilan, bukanlah sebuah kekuatan yang berorientasi pada keuntungan
(seigniorial or profit). Masyarakat madani lebih merupakan kekuatan yang justru
memberi manfaat [a beneficial power]. Kesepuluh, kendati masyarakat madani memberi
kesempatan yang sama dan merata kepada setiap warganya, tak berarti bahwa ia harus
seragam, sama dan sebangun serta homogen.
Karakter sepuluh ciri tersebut sangat ideal, sehingga mengesankan seolah tak ada masyarakat seideal itu. Kalau ada, yaitu masyarakat muslim yang langsung dipimpin oleh Nabi SAW yang relatif memenuhi syarat tersebut. Memang, masyarakat seideal masyarakat “madinah” telah diisyaratkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam sabdanya,
“tak ada satupun masyarakat di dunia ini yang sebaik masyarakat atau sebaik-baik
masa adalah masaku”
Diakui bahwa masyarakat Madinah yang dipimpin langsung oleh Nabi Muhammad SAW merupakan prototype masyarakat ideal.
Pendidikan Islam di Indonesia untuk menuju masyarakat madani sangat mendesak, karena :
a. Konsep dan praktek pendidikan Islam dirasakan terlalu sempit, artinya terlalu
menekankan pada kepentingan akhirat, sedangkan ajaran Islam menekankan pada keseimbangan antara kepentingan dunia dan akhirat. Maka perlu pemikiran kembali konsep pendidikan Islam yang betul-betul didasarkan pada asumsi dasar tentang manusia yang akan diproses menuju masyarakat madani
b. Lembaga-lembaga pendidikan Islam yang dimiliki sekarang ini, belum atau kurang mampu memenuhi kebutuhan umat Islam dalam menghadapi tantangan dunia modern dan tantangan masyarakat dan bangsa Indonesia disegala bidang. Maka, untuk menghadapi dan menuju masyarakat madani diperlukan konsep pendidikan Islam serta peran sertanya secara mendasar dalam memberdayakan umat Islam, suatu usaha pembaharuan pendidikan hanya bisa terarah dengan mantap apabila didasarkan pada konsep dasar filsafat dan teori pendidikan yang mantap. Pendidikan yang diterapkan menuju masyarakat madani harus benar-benar sesuai dengan prinsip yang terkandung dalam internalitas Al Qur’an dan Sunnah.
Terlepas dari itu semua, pendidikan Islam sangat berperan besar dalam membentuk masyarakat madani yakni:
1) Dilihat dari segi tujuan pendidikan islam memiliki tujuan yang berkaitan
dengan pembinaan masyarakat yang beradab. Athiyah al Abrsyi mengatakan bahwa pendidikan budi pekerti dan akhlak adalah jiwa dan tujuan pendidikan Islam. Demikian pula Ibnu Sina berpendapat bahwa tujuan pendidikan Islam dalam mengembangkan potensi yang dimiliki seseorang ke arah perkembangannya yang sempurna, yaitu perkembangan fisik, intelektual dan budi pekerti. Dari hal tersebut, dapat diketahui bahwa tujuan utama pendidikan Islam adalah mewujudkan manusia yang berakhlak mulia, di samping mencerdaskan akal pikiran dan ketrampilannya. Dengan cara demikian akan lahir manusia-manusia yang pandai, terampil sekaligus berakhlak mulia. Manusia-manusia yang demikian itu, diharapkan dapat membangun masyarakat madani. Suatu masyarakat madani dapat tercipta dengan adanya insan kamil yang tidak hanya memiliki intelektual semata tetapi mempunyai jiwa relijius islam dan berbudi pekerti atau berakhlak mulia.
2) Dilihat dari sifatnya, pendidikan Islam tidak memisahkan antara pengajaran dan pendidikan. Pengajaran biasanya diartikan mengisi otak anak dengan ilmu pengetahuan sedangkan pendidikan adalah membina kepribadian atau sikap. Pengajaran dan pendidikan tidak dapat dipisahkan, dikarenakan melalui itulah manusia dapat mengarungi kehidupan dalam konteks masyarakat madani.
3) Dilihat dari pendidik, pendidikan islam menghendaki agar seorang pendidik di samping memiliki pengetahuan yang mendalam dan luas dengan ilmu yang diajarkannya, juga harus mampu menyampaikan ilmunya itu secara efektif dan efesien serta memiliki akhlak yang mulia. Dengan demikian seorang pendidik harus mampu mengajarkan ilmunya, agar para peserta didik memiliki kecerdasan berpikir dan menumbuhkan akhlak yang mulia guna terciptanya masyarakat yang beradab.
4) Dilihat dari segi metode pengajarannya, pendidikan Islam dapat menempuh cara-cara menyampaikan pendidikan yang sesuai dengan ilmu yang diajarkan. Dengan kata lain pendidikan Islam menempuh cara-cara pengajaran yang bijaksana, manusiawi, dan sesuai dengan perkembangan zaman.
5) Dilihat dari segi sasarannya, pendidikan Islam ditujukan untuk semua manusia, tanpa membeda-bedakan jenis kelaminnya. Dengan demikian maka pendidikan dapat diperoleh dengan sama .
6) Dilihat dari segi lingkungannya, pendidikan islam menggunakan seluruh lingkungan pendidikan.
Jadi, kebutuhan umat yang amat mendesak sekarang ini adalah mewujudkan dan meningkatan kualitas manusia muslim menuju masyarakat madani. Untuk itu umat Islam di Indonesia dipersiapkan dan harus dibebaskan dari ketidaktahuannya akan kedudukan dan peranannya dalam kehidupan “masyarakat madani” dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara. Pendidikan Islam haruslah dapat meningkatkan mutu umatnya dalam menuju “masyarakat madani”. Kalau tidak umat Islam akan ketinggalan dalam kehidupan “masyarakat madani” yaitu masyarakat ideal yang dicita-citakan bangsa ini. Maka tantangan utama yang dihadapi umat Islam sekarang adalah peningkatan mutu sumber insaninya dalam menempatkan diri dan memainkan perannya dalam komunitas masyarakat madani dengan menguasai ilmu dan teknologi yang berkembang semakin pesat. Karena, hanya mereka yang menguasai ilmu dan teknologi modern dapat mengolah kekayaan alam yang telah diciptakan Allah untuk manusia dan diamanatkan-Nya kepada manusia sebagai khalifah dimuka bumi ini untuk diolah bagi kesejahteraan umat manusia.
Selain itu, dapat diketahui bahwa masyarakat madani adalah masyarakat yang didasarkan pada nilai-nilai peradaban luhur yang bersumber dari Al Qur’an dan Sunnah yakni mewujudkan rahmat bagi seluruh alam dalam situasi masyarakat yang egaliter, manusiawi, harmonis, mandiri, dan beradab. Masyarakat madani telah diletakkan dasar-dasarnya oleh Nabi Muhammad SAW. Dan kini, masyarakat madani menjadi salah satu alternatif penting untuk mengatasi permasalahan kehidupan umat manusia melalui kontribusi dari pendidikan islam itu sendiri.